Senin, 17 Desember 2012
SETENGAH JAM SAJA
Aku melihat raut wajah perempuan paruh baya itu begitu sumringah, namun tetes air matanya tak kuasa ia bendung, entah sedih, entah terharu, entah juga bahagia atau apa. Aku tak tahu pasti asa yang ada di benaknya, ketika malam itu ia menerima pemberian sebuah kursi roda untuk anak laki-laki satu-satunya, setelah belasan tahun dinantinya.
Anastasia Kidi Sabon nama perempuan paruh baya itu. Anas nama panggilannya. Berambut kriting, berkulit legam dengan gurat-gurat tegas pada raut wajahnya. Penampilan fisiknya menyiratkan ia seorang pekerja keras, seorang penyintas kehidupan dengan segala keterbatasannya. Anas, demikian ia dipanggil, adalah penduduk asli di desa Pledo, kecamatan Witihama, di sebuah pulau bernama Adonara, Nusa Tenggara Timur. Sebuah pulauyang hanya terlihat seperti noktah hitam dalam buku peta Indonesia.
Anas tinggal bersama keluarganya di sebuah rumah sederhana, berdinding tembok meski tanpa plester dan cat, beratap seng tanpa plafon. Sekilas nampak tidak ada hal yang istimewa yang terjadi di rumah ini. Namun, dugaanku meleset kawan. Di rumah inilah aku mendengar cerita utuh tentang perjuangan hidup, melihat potret dan gambar muram penderitaan hidup yang lengkap. Rumah itu bukan miliknya, kawan. Dia hanya menumpang di rumah yang tidak dihuni pemiliknya itu. Itupun, tidak lama lagi Anas harus pindah dan tencari tempat hunian baru, karena rumah yang ditempatinya saat ini akan segera diambilalih oleh pemiliknya. Semula ia tinggal di rumah warisan orang tuanya, namun karena adat yang menentukan bahwa rumah warisan hanya diperuntukkan utuk anak laki-laki paling kecil di keluarganya, hingga Anas harus ‘terusir’ dari rumahnya dan menempati rumah pinjaman itu hingga saat ini. Aturan adat di Adonara sangat dipegang teguh oleh seluruh anggota masyarakat, menjadi acuan utama dalam proses-proses pengambilan keputusan di tingkat keluarga maupun tetua-tetua adat dalam pengambilan keputusan yang lebih luas di masyarakat.
Di keluarganya, Anas adalah pemimpin dan pengayom sejati bagi suami dan anak laki-laki satu- satunya. Kepala keluarga sesungguhnya. Perlu kau tahu kawan, suami yang dicintai dan dilindunginya itu menderita kebutaan total pada kedua matanya lebih kurang 11 tahun yang lalu. Konon ketika ia masih kecil, kepala bagian belakangnya tertimpa dahan pohon hingga ia jatuh pingsan di kebun. Tak ada orang lain yang melihat dan menolongnya hingga ia siuman dan pulang ke rumah sendirian. Mungkin, itulah yang menjadi penyebab kebutaan pada kedua matanya 30an tahun kemudian. Laki-laki itu kini hanya bisa menggantungkan hidup kepada sang istri, tidak punya pekerjaan apa-apa. Sesosok laki-laki lain yang menjadi tanggungjawab Anas adalah anak semata wayangnya, Ebi namanya. Ia yang kini duduk di bangku SMA kelas 2, menderita cacat pada kedua kakinya sejak kecil. Mungkin dulu terkena folio, pikirku. Hingga kini, ia harus berjuang keras untuk berjalan dengan cara menyeret-nyeret kedua kakinya. Begitu setiap hari kawan, hingga di kedua telapak kakinya yang tidak sempurna itu, tumbuh benjolan-benjolan keras yang biasa orang sebut ‘kapalan’. Namun dengan segala keterbatasan yang dimilikinya, ia tetap gigih untuk meneruskan sekolahnya.
Kondisi ini memaksa Anas menjadi penopang utama di keluarganya. Sudah belasan tahun Anas dan keluarganya menjalani hidup sedemikian getir. Berkubang dalam genangan kemiskinan yang demikian hitam dan berbau. Demi menyambung hidup dan menafkahi kedua orang yang dicintainya itu, sehari-hari Anas bekerja mencari upahan untuk membersihkan kebun milik orang lain. “Kalau saya bawa bekal sendiri, saya diberi duapuluh lima ribu sehari. Tetapi kalau tidak bawa bekal dan diberi makan oleh yang punya kebun, saya diberi lima belas ribu”. Lima belas ribu rupiah, kawan. Uang sejumlah itulah yang dibawanya pulang saat hari menjelang petang. Penghasilan yang jauh di bawah rata-rata pendapatan per kapita penduduk Indonsia. Pun, belum tentu setiap hari ada orang yang memberinya pekerjaan membersihkan kebun. Jika tidak ada orang yang membutuhkannya membersihkan kebun, Anas juga biasa menjadi buruh mengangkat pasir. Kerja kasar apapun ia lakukan demi keberlangsungan hidup anggota keluarganya. Sebuah potret kemiskinan yang akut.
Tentu kau bertanya-tanya, kawan. Bagaimana ia bisa pergi meninggalkan kedua orang yang dikasihinya itu di rumah, sedang mereka semua sangat bergantung pada pertolongan orang lain? Setiap pagi ia harus menyiapkan segala kebutuhan suami dan anaknya, menyediakan sarapan, mengantar dan memapah anaknya ke sekolah. Ia pun harus meletakkan segala kebutuhan suami pada tempat yang telah mereka atur sebelumnya, agar suaminya ketika tidak ada orang lain di rumah melayani sendiri meski ia tak bisa melihat apa-apa. Di siang hari ia masih harus menjemput anaknya di sekolah dan mengantarnya pulang ke rumah, dan setelah itu ia kembali ke kebun untuk melanjutkan pekerjaannya. Sebuah sketsa penderitaan dan perjuangan hidup yang lengkap, kawan.
Sudah belasan tahun Anas bercita-cita dan memimpikan sebuah kursi roda untuk anak yang dicintainya. Agar tidak lagi ia melihat anaknya berjalan dengan menyeret-nyeret kedua kakinya. Namun itu hanya angan dan mimpi saja, dia tidak tahu lagi cara mendapatkan uang untuk membelinya. Anas pun lantas berusaha mengajukan permohonan bantuan pada dinas sosial di kabupaten Flores Timur. Sudah puluhan kali Anas bolak-balik ke kantor dinas sosial di kabupaten, untuk mengurus permohonan bantuan kursi roda itu, meski harus menempuh perjalanan jauh melalui jalan darat dan menyeberangi laut. Namun, sudah bisa ditebak. Seperti biasanya. Yang dibawaanya pulang hanyalah janji-janji. Seakan para pejabat pemerintahan itu merasa sudah memenuhi kewajibannya dengan memberikan janji yang hingga saat ini tidak pernah diwujudkannya. Seperti janji-janjinya para politikus saat pilkada dan pemilu tiba, begitu betebaran, dijual murah, diobral bahkan digratiskan bagi siapa saja yang mau menjadi pengikutnya. Namun saat mereka terpilih menjadi anggota dewan dan duduk di pemerintahan, mereka dipastikan lupa, pura-pura lupa atau belajar menjadi pelupa atas segala janji busuknya.
Namun malam itu, aku menyaksikan serombongan ibu-ibu yang mempunyai nasib dan kehidupan yang hampir sama dengan yang dialami Anas, membawakan sebuah kursi roda untuk anaknya. Sebuah kepedulian sosial yang tulus dan ikhlas. Sebuah kepedulian sosial yang didasari oleh rasa kebersamaan, rasa senasib. “Ini kami beli dari dana iuran anggota kelompok yang dikhususkan untuk bantuan-bantuan sosial bagi anggota masyarakat yang membutuhkan seperti keluarga Anas”, ujar salah satu orang perwakilan dari mereka. Para perempuan ini tergabung ke dalam wadah kelompok perempuan kepala keluarga, komunitas bagi perempuan yang menjadi penopang dan tumpuan hidup bagi keluarganya dengan berbagai sebab, seperti halnya Anas.
Saat Anas menerima pemberian kursi roda itu, aku melihat raut wajah perempuan paruh baya itu begitu sumringah, namun tetes air matanya tak kuasa ia bendung, entah sedih, entah terharu, entah juga bahagia atau apa. Aku tak tahu pasti asa yang ada di benaknya, ketika malam itu ia menerima pemberian sebuah kursi roda untuk anak laki-laki satu-satunya, setelah belasan tahun dinantinya. Hanya setengah jam saja aku berada di rumah itu, namun begitu banyak pelajaran dan cerita yang aku dapat. Setengah jam saja, aku menyaksikan sendiri kisah nyata perjuangan dan penderitaan sebuah keluarga dalam himpitan kemiskinan dan kepasrahan tanpa syarat.
Sementara itu, aku menyaksikan sang kepala negara yang sebagian kader partainya sedang terseret kasus korupsi, berpidato di sebuah televisi swasta, dan mengatakan bahwa “kita harus melindungi para pejabat pemerintah yang terseret kasus sementara sebetulnya mereka tidak berniat untuk melakukan tindak korupsi”. Meski aku tidak begitu paham apa maksud dari ucapannya itu, tapi kalimat itu terasa menyakitkan menurutku, mereka tak pantas dibela, biarkan mereka mempertanggungjawabkan perbuatannya, biarkan proses hukum yang membuktikannya. Mungkin, sang presiden tidak pernah sekalipun menyaksikan potret buram keluarga Anas, tidak pernah mendengar cerita-cerita muram dari kerak kemiskinan yang keras menghitam, dan.... pahit.
Salam
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar