Rabu, 01 Juli 2020

SOLE OHA

Tarian Peluruh Duka

Tangan tangan mereka berpegangan erat satu sama lain, lengan bertemu lengan, laki-laki dan perempuan, tua muda, tanpa sekat, tanpa batas agama, terus terjalin hingga membentuk sebuah lingkaran. Prinsip mereka adalah satu, siapapun yang masuk ke dalam lingkaran adalah keluarga. Melalui tangan-tangan yang terpaut erat, mereka berbagi energi positif. Semua mengenakan kain sarung, atau paling tidak hampir semua berkain sarung. Mereka menari bersama, dengan langkah-langkah berirama ke kiri dan ke kanan, tangan tetap berpegangan erat, dipadu bunyi hentakan langkah serentak dan bunyi gemerincing dari lonceng kaki yang dipasang pada 2 atau 3 orang lelaki yang berperan sebagai pemandu tari dan pelantun lagu. Di tanah lapang, di keheningan malam, terus berputar, derap kaki dan gemerincing lonceng, cahaya bulan yang sedikit redup serta semilir hembusan angin dari laut, pusaran energi dan suasana magis tercipta.

“Go niku lau, go gelak rae, nuan ti go peten ema noon bapa, bapa piara, ema menjaga, jaga ana moen nuan susah tudak”. Itulah syair pembuka yang sering saya dengar yang biasa mereka nyanyikan secara bersama. Belakangan saya tahu arti syair itu, “Saya melihat ke kiri, saya melihat ke kanan, dalam lingkaran saya teringat emak dan bapak, bapak yang memelihara, emak yang merawat, merawat anak dalam suka maupun duka”. Syair yang sederhana namun mengandung arti yang luar biasa, tentang keluarga, tentang keseharian mereka. Lalu, syair demi syair dilantunkan secara bergiliran, mirip dengan berbalas pantun. Ada syair berisi pujian, candaan dan sindiran, namun mereka kerap mencurahkan isi perasaan melalui lantunan syair yang mereka ciptakan sendiri, tak jarang pula mereka berbagi kisah dan perjalanan hidup. Bahkan menurut mereka konflik dan sengketa pribadi diantara mereka bisa diselesaikan saat itu melalui lantunan syair. Meski saya tidak mengerti secara utuh apa yang mereka lantunkan, namun saya bisa tertawa, bisa merasakan kesedihan yang mereka sampaikan, bisa merasakan semangat yang dibangun bersama. Ada potret kehidupan dalam lingkaran ini, ada lembaran cerita yang mereka cipta. 

Ritme tiba-tiba berubah lebih kencang, dikomandoi oleh pemandu tari dan pelantun lagu berlonceng kaki yang meneriakkan syair dengan suara lebih lantang. Lantas iramapun berubah, hanya pelantun lagu yang terus bernyanyi, bertutur tentang apapun yang saat itu menjadi topik utama. Jika ada 2 orang pelantun lagu, maka mereka lah yang akan bergantian bernyanyi dan menjadi komando. Tidak ada syair dan lagu yang sama untuk setiap acara tarian ini, para pelantun lagu ini secara spontan mencipta syair-syair yang mereka sesuaikan dengan tema acara pada hari itu. Konon hanya tinggal beberapa orang saja yang mempunyai kemampuan sebagai pelantun sole, itu pun rata-rata usianya sudah menjelang senja. Semakin malam, warga yang semula hanya menjadi penonton pun mulai bergabung ke dalam lingkaran. Jika tidak cukup ruang, mereka membentuk lingkaran-lingkaran baru yang bisa mencapai 2 atau 3 lapis lingkaran. Semakin lama, ritme tarian semakin cepat, pelantun sole makin kencang meneriakkan syair, tempo semakin memuncak.

Tarian mendadak berhenti dengan serentak saat sang komandan menghentikan syairnya dengan sebuah hentakan gerak. Saya melihat wajah-wajah mereka sumringah, penuh tawa, seperti hilang semua duka dan nestapa. Lingkaran pun bubar, mereka kembali duduk ke tempatnya semula. Namun itu tidak berlangsung lama, setelah istirahat sejenak dan menikmati makanan dan minuman yang tersedia, mereka segera membentuk lingkaran kembali, bernyanyi dan menari bersama, satu, dua hingga tiga lingkaran. Tarian yang serupa namun syair dan cerita yang berbeda. Mereka bisa melakukan ini hingga pagi menjelang, bahkan bisa berlanjut sampai 2 atau 3 hari siang dan malam. “Tarian ini juga sebagai wujud syukur atas segala peristiwa”, tutur seorang pelantun sole saat saya bertanya.

Tarian Sole Oha adalah tarian yang berasal dari suku Lamaholot yang tersebar di Lembata, Adonara, Solor dan Flores Timur, Nusa Tenggara Timur. Dilestarikan secara turun temurun, tarian ini merupakan tarian kegembiraan yang menyatukan gerak, kisah dan nyanyian. Saya sangat beruntung masih bisa menyaksikan kembali tarian ini pada kegiatan Pesta Tenun “Sole Oha Balik Lewo” di Adonara dan Lembata, Nusa Tenggara Timur tanggal 22 dan 24 September lalu. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Yayasan PEKKA, Torajamelo dan Serikat Pekka Flotim dan Lembata dengan dukungan pendanaan dari MAMPU.

Tarian ini pula yang dipakai oleh kader-kader pendamping Pekka di sana, untuk mengorganisir dan mengumpulkan para perempuan kepala keluarga. Kini mereka telah terorganisir selama lebih dari 15 tahun dalam satu wadah Serikat Perempuan Kepala Keluarga. Mereka saling berbagi cerita, terbiasa melepaskan segala penat dan tumpukan persoalan, meluruhkan perih dan segala duka dalam satu lingkaran “Sole Oha”.

Jakarta, 15 Oktober 2018.

Selasa, 06 Mei 2014

Hujan Bulan Mei


Ada yang ingin disampaikan hujan
Pada sunyi yang menggigil sendirian
Bukan tentang kehilangan
Tapi tentang air mata yang tak pernah tahu untuk apa ia teteskan

Ada yang hendak diingatkan hujan
Pada malam yang bergerak berkelindan
Aku yakin hujan adalah cara Tuhan
Merawat kesetiaan sedari masa silam

Ada yang coba disampaikan hujan
Padamu yang berlalu beranjak senja
Tentang cerita, mimpi dan cinta
Dalam rangkaian kisah antara kita

Selamat ulang tahun, istriku
Jakarta, 7 Mei 2014 

Senin, 21 April 2014

Quick Count


 9 April. Ah, tentu kau sudah tahu arti tanggal itu, kawan. Dan pasti kau juga sudah bisa menebak apa yang akan aku tuliskan. Ya, belum lama berlalu hingar bingar pesta demokrasi 5 tahunan di republik kita tersayang. Pesta rakyat, lebih tepatnya. Inilah saat-saat dimana semua warga negara berhak secara langsung menyampaikan aspirasinya. Meski aku yakin banyak diantara mereka yang tidak tahu pasti aspirasi itu seperti apa, siapa yang mereka pilih untuk menyampaikan aspirasinya. Mungkin hanya asal coblos, mungkin hanya main tebak-tebakan, atau hanya ikut-ikutan, tapi itulah kenyataannya, kawan. Itulah arti pesta demokrasi yang dipahami kebanyakan orang, sangat sederhana. Datang ke TPS, masuk ke bilik suara, mencoblos salah satu pilihan, lalu pulang sambil menunggu keajaiban datang.

Seperti layaknya pesta, menjelang dan setelah hari pemilihan semua orang mempunyai cerita yang sama, semua orang dengan pikiran yang sama. Sampai-sampai para pakar di bidang ini menganugerahi gelar tahun ini sebagai tahun politik. Meskipun belum ada penelitian secara resmi berapa persen penduduk Indonesia bicara politik pada tahun ini, namun dalam keseharian memang sangat terasa. Hampir semua orang yang kita jumpai di warung, di pos ronda, di meja makan, di kedai kopi, di kantor-kantor, di sekolahan, di pangkalan ojek, di tempat pangkas rambut pinggir jalan, mereka gemar sekali berbicara masalah yang satu ini. Tiba-tiba semua orang menjadi melek politik, menjadi pengamat politik dadakan dengan teori-teori konspirasinya.

Gegap gempita pemilihan calon anggota legislatif memang sudah usai, dianggap usai lebih tepatnya, karena hingga aku membuat tulisan ini perhitungan secara resmi oleh KPU belumlah selesai. Namun, masyarakat sudah mengetahui lebih awal siapa partai pemenang pemilu legislatif kali ini. Menakjubkan memang. Bahkan bagiku yang pada tanggal 9 April itu didaulat menjadi panitia KPPS (Kelompok Panitia Pemungutan Suara) merasa sakit hati dibuatnya. Bagaimana tidak, di saat kami masih melakukan penghitungan suara, stasiun-stasiun televisi nasional, melalui beberapa proyek ‘quick count’ sudah bisa menayangkan lebih dahulu siapa pemenangnya. Seakan kerja kami hingga lewat tengah malam itu tiada artinya. Aku masih ingat 10 tahun yang lalu, saat quick count belumlah terlalu populer, penghitungan suara di TPS-TPS menjadi hiburan gratis yang sangat menyenangkan. Warga berduyun-duyun menonton, bertepuk tangan, berteriak, bersorak sorai, membuat kami kian bersemangat dalam melakukan kerja penghitungan suara. Namun kali ini teramat sepi, hanya satu dua orang yang rela mangkal di TPS hingga penghitungan suara usai. Semua orang sudah mempunyai sarana hiburan sendiri di rumah-rumah melalui acara yang menempati rating tertinggi, perhitungan suara melalui quick count. Perlu kau ingat kawan, hasil perhitungan super cepat melalui quick count yang sudah beberapa kali dilakukan untuk pemilu maupun pilkada selalu hampir persis dengan hasil perolehan akhir dengan cara manual. Luar biasa.

Perhitungan suara dengan cara yang super cepat sangat membantu partai-partai politik untuk segera menyusun strategi yang dianggap tepat untuk melaju ke langkah selanjutnya, pencalonan presiden. Membangun koalisi,  menggalang dukungan, menebar pesona, saling serang lebih awal, saling umbar komentar pedas di media untuk menjatuhkan lawan-lawan politiknya. Janji-janji musiman mulai ramai berseliweran seperti kendaraan di perempatan tanpa rambu lalu lintas. Berusaha saling mendahului, saling serobot, tak pedulikan orang lain, bahkan segala cara dihalalkan.

Tepat jam 00.15 perhitungan suara di TPS kami baru benar-benar selesai hingga lembar terakhir. Kotak-kotak suara kembali dikunci dan dikirim ke panitia pemilihan kecamatan. Letih, namun aku juga bangga bisa menjadi bagian dari proses pesta demokrasi di negeri ini. Aku sungguh tak sabar menantikan seperti apa rupa sang jabang bayi yang dilahirkan dari rahim pemilu kali ini, kawan. Apakah dia tikus pengerat, apakah ia si kucing pemalu, apakah ia anjing penjilat , ataukah ia manusia setengah dewa. Entahlah, aku tak tahu kawan, kita tunggu saja. 

Salam 

Senin, 24 Juni 2013

Tetes Terakhir Bahan Bakar Bersubsidi


Aku merasa perjalananku pulang kerja malam ini terasa lain dari biasanya. Jalanan lebih padat dari biasanya, lebih lama dari biasanya, lebih riuh dari biasanya, lebih panik dari biasanya, lebih jenuh dari biasanya. Semua orang sepertinya terburu-buru, tergesa-gesa. Klakson-klakson bersahutan, memaki. Meski jalanan begitu padat, namun para pengendara seperti mengejar sesuatu, atau dikejar sesuatu, entah apa. Berkali-kali aku harus menginjak rem sepeda motorku lebih keras dan serba mendadak, menghidari serobotan-serobotan pengendara lainnya, mengindari senggolan dan tabrakan. Ah rasanya hidup dan mati di jalanan seperti ini sangat dekat tak berjarak.  


Sebuah bus angkutan umum berbelok secara mendadak serampangan di jalan masuk sebuah pom bensin, seorang pengendara sepeda motor yang hampir terserempet berteriak memaki, namun dibalas makian lebih garang dari kondektur bus itu. Ah, apa yang terjadi malam ini? Orang-orang seperti kesetanan, tak peduli tata krama, tak peduli warna lampu lalu lintas, merah, hijau, sama saja. Tak peduli lagi kalau dirinya manusia, bahkan sempat aku berpikir, setanpun sekarang mungkin lebih berprikemanusiaan.

Di sepanjang jalan yang kulalui, terlihat antrian panjang mengular di setiap stasiun pengisian bahan bakar, tak tak terkecuali. Ah, aku baru sadar, rupanya mereka berusaha untuk bisa menikmati tetes terakhir BBM bersubsidi. Berita tentang keputusan pemerintah untuk mencabut subsidi BBM yang akan diputuskan malam ini begitu dahsyat akibatnya. Angkutan umum, Truk, mobil pribadi, sepeda motor semua berlomba memenuhi tangki kendaraannya sebelum kenaikan diumumkan. Terlintas untuk ikut antri bersama mereka, tapi ah tangki sepeda motorku hanya menampung beberapa liter saja, tak sebanding dengan ongkos antrian yang begitu mengular, pikirku.


Akhirnya tiba waktu yang ditunggu-tunggu, tapi siapa pula yang menunggu? Waktu yang sangat penting, semua stasiun televisi nasional menghentikan segala aktivitasnya demi menyiarkan secara langsung pidato bapak menteri berambut perak itu. “Untuk meyelamatkan dan menyehatkan perekonomian” demikian sekilas alasan yang dikemukakan oleh sang menteri mengawali pengumuman kenaikan harga BBM. Dengan wajah yang terlihat enggan, atau pura-pura enggan, aku tidak dapat membedakannya kawan. 


Ah aku membayangkan beragam reaksi atas keputusan pemerintah ini. Kekhawatiran jutaan orang akan kenaikan tarif angkutan, sembako, makanan, minuman, tarif tukang cukur, tarif WC umum dan semua yang harus ditukar dengan uang. Para pengamat ekonomi kebanjiran tawaran manggung di televisi dan radio. Para penimbun bahan bakar siap memasarkan dagangannya tepat dimulai jam 00.01 WIB. Para politisi penolak kenaikan bahan bakar berkomentar di sana-sini, merasa mewakili rakyat kecil, sebagian memohon maaf, atau pura-pura mohon maaf karena tidak berhasil memperjuangkan pembatalan kenaikan harga bahan bakar. Mungkin juga tersenyum, karena terbayang dukungan rakyat pada pemilu 2014 nanti. Para pemilik kendaraan menggerutu karena otomatis biaya harian perjalanan harus ditambah. Para pemilik, para pengambil keputusan di perusahaan was-was dengan unjuk rasa kenaikan upah para buruhnya. Ah, tapi itu hanya bayanganku saja kawan, lintasan liar dari pikiranku saja, entah benar, entahpun tidak. Reaksi sebagian lain mungkin biasa saja, karena berita inipun sebetulnya sudah diketahui seluruh masyarakat cukup lama. Setiap hari kita saksikan iklan layanan masyarakat di TV tentang informasi ini. Konon, dana untuk sosialisasi kenaikan harga BBM ini menghabiskan ratusan milyar rupiah. 


“Hal ini pasti akan menimbulkan inflasi yang berdampak pada daya beli masyarakat berpenghasilan rendah. Pilihan yang amat sulit dan merupakan pilihan alternatif terkahir yang diambil oleh pemerintah”. Demikian pak Menteri berambut perak itu menambahkan, dengan wajah memelas,  atau pura-pura memelas, aku tidak bisa membedakannya kawan. Pilihan alternatif terakhir? Dengan kata lain, ada piliihan pertama, kedua, ketiga hingga pilihan terakhir. Pilihan alternaif pula. Mengapa pilihan alternatif terakhir yang diambil? Apa isi pilihan pertama, kedua dan seterusnya hingga akhirnya mengambil pilihan alternatif terakhir, pak menteri tidak menjelaskannya dalam pengumuman itu. Ah, pasti banyak pertimbangannya, pikirku. 


“Penyesuaian harga BBM ini pemerintah haruslah disertai dengan program percepatan dan perluasan perlindungansosial serta program khsuus lainnya agar dapat melindungi masyarakat yang terkena dampak tersebut”. Mulailah pak menteri berambut perak itu membeberkan program-program pemerintah untuk ‘menyelamatkan’ rakyat kecil yang terkena dampak kenaikan harga BBM ini. Justru penjelasan tentang program inilah yang begitu panjang lebar disampaikan. Seolah justru itulah yang sesungguhnya ingin disampaikan, kebaikan-kebaikan dan kepedulian pemerintah terhadap rakyat kecil, bukan pengumuman kenaikan harga bahan bakar. Itu hanya pengantar cerita saja.


Aku menikmati secangkir kopi pagi ini. Hari telah berganti, bahan bakar bertukar harga, tapi dampaknya biasa saja, tak ada yang berubah. Pasti belum. Kita tunggu saja.

Jumat, 31 Mei 2013

Kau tak Tahu Apapun Tentangku

aku tak suka kau bicara apapun tentangku, kawan
kau tak tahu apa-apa
betul itu

katamu aku penurut dan banyak malu
TIDAK! aku berani menentang kicaumu yang terlalu
katamu aku kawan yang tak ingin kau percaya
TIDAK! bagiku kejujuran diatas segalanya
katamu aku pemimpin tak adil dan semauku sendiri
TIDAK! aku menghargai setiap gerak siapapun itu
katamu aku lelaki bejat yang gemar menebar syahwat
TIDAK! bagiku keluarga diatas segalanya
dan perlu kau tahu, aku anti poligami, kawan
katamu aku pelit dan tak mau berbagi
TIDAK! kebahagiaan buatku ketika bisa memberi

kau tak tahu apa-apa tentangku
betul itu

Semarang, Mei 2013

Selasa, 07 Mei 2013

menyerah

menyerah pada apa?
pada kata yang tak lagi terkatakan?
pada esok yang tak lagi hari esok?
lalu?

Jakarta, 8 Mei 2013

Rabu, 06 Maret 2013

OBROLAN SINGKAT DI PINGGIR JALAN

-->
Seperti hari-hari biasa, setiap malam aku pulang di tengah kepadatan lalu lintas jalan kalimalang. Berjuang di setiap celah kendaraan untuk bisa tetap melaju. Seorang pengendara sepeda motor di sampingku mengingatkan bahwa knalpot sepeda motorku berguncang-guncang hampir jatuh. Ya, aku tahu itu karena sepeda motorku pernah terjatuh di tambah aku diseruduk sebuah mobil dari belakang yang mengakibatkan pijakan kaki bagian kanan yang juga berfungsi sebagai penyangga knalpot patah.

Aku melanjutkan perjalananku dengan melajukan motorku perlahan, mencari bengkel kecil atau tukang tambal ban di pinggir jalan. Ah, gampang sekali memang menemukan tempat tambal ban di sepanjang jalan Kalimalang, karena hampir setiap jarak 200 meter pasti ada bengkel kecil dan tambal ban. Ribuan mungkin jutaan sepeda motor yang melaju setiap harinya, membuat lapangan kerja tersendiri buat para tukang tambal ban. Aku meminggirkan sepeda motorku setelah aku menemukan bengkel kecil yang dimaksud.

“Kenapa pak?” ujar Abang tukang tambal ban itu sambil menghampiriku.
“Ini bang, minta tolong ikat knalpot dong, ini hampir jatuh.” Setelah mengorek-ngorek mencari tali untuk mengikat, akhirnya dia membantuku mengikat knalpot sepeda motorku dengan bekas tali rem. Sambil bekerja dia bertanya, “Emang kenapa pak?”
“Oh itu bang, ditabrak mobil dari belakang,” Ujarku. “Pernah jatuh juga sih, mungkin tadinya retak”, aku menambahkan.
“Pak, kalau suka jatuh, motornya harus dimandiin, dibaca-bacain. Saya juga gitu, setelah dimandiin dan dibaca-bacain, alhamdulillah nggak pernah jatuh lagi”.

Ah, apa yang dia ucapkan sesaat memang terdengar seperti mistik, klenik atau tahayul. Untung aku bukan seorang berjanggut dan bercelana gombrong yang sering meghakimi seseorang dengan sebutan musyrik, syirik, kafir atau apalah. Maaf, kawan. Aku bukan antipati dengan orang berjanggut dan bercelana gombrong, itu hanya simbol saja dan orang kebanyakan masih suka dengan simbol-simbol itu. “Harus dimandiin dan dibaca-bacain”, menurutku mengandung makna yang dalam, bukan klenik dan mistik. “Dimandiin” artinya dicuci/dibersihkan, ya apapun yang kita miliki sepatutnya memang harus dibersihkan. Kendaraan harus sering dicuci dan dibersihkan dari debu maupun sisa-sisa kotoran yang menempel, pun segala barang-barang yang kita miliki. Terlebih hati dan jiwa kita. Harus sering ‘dicuci dan dibersihkan’ supaya terhindar dari segala penyakit hati, iri dan dengki. Menurut keterangan yang aku baca dan aku dengar, iri hati adalah sumber dari segala sumber masalah, terutama menyangkut hubungan sesama manusia. Untuk itulah hati dan jiwa juga harus sering 'dimandiin' supaya tetap bisa berpikiran positif dalam menyikapi berbagai persoalan kehidupan.

“Dibaca-bacain” menurutku mengandung makna apapun yang kita punya harus diperlakukan dengan baik, disirami dengan kata-kata yang baik, dido’akan, meskipun itu benda mati. Apalagi orang hidup, orang tua, anak, saudara, istri, suami harus sering dibaca-bacain, didoakan agar selalu terhindar dari bahaya dan segala persoalan.

Itu yang bisa aku petik dari perbicangan sangat singkat dengan Abang tukang tambal ban di pinggiran jalan kalimalang, malam itu. Semoga menginspirasi, maaf kalo tidak berkenan.

Salam

Selasa, 19 Februari 2013

TILANG


Aku bilang kuning, merah dia bilang
Anda menerobos lampu merah
Begitu ia menegurku
Menghardik aku rasa
Masih kuning kubilang, merah katanya
Ah apa arti kuning merah kalau aku tertangkap basah
Dalam ruang kecil berkaca gelap
"MELAYANI MASYARAKAT.." kubaca tulisan di kacanya
Dua lelaki berseragam itu menanyaku bergantian
Anda membahayakan orang lain katanya
Begitu yang satu bilang
Siapa yang disalahkan kalau terjadi apa-apa
Yang lain menimpali
Di sampingku sepasang muda mudi
Berkutat dengan masalah yang sama
Pelanggaran lalu lintas begitu menurutnya
Anda ditilang atau di sini saja urusan
Ah di sini lebih baik pikirku
Urusan sidang sungguh tak terbayang
Seratus ribu saja habis urusan
Ah besar sekali kubilang
Tak bisakah diberi kurang
Bensinku habis untuk pulang
Tidak bisa katanya, kalau tidak, disidang saja
Ah, urusan sidang sungguh tak terbayang
Kuberi ia seratus ribu terpaksa
Ah ini suap kurasa
Tapi apalah dayaku dalam ruang kecil berkaca gelap
Sidang tak terbayang, pelanggaran dihargai uang
Aku pulang dan meninggalkan selembar uang
Seratus ribu rupiah dan urusan selesai sudah
Selamat malam pak polantas

Selasa, 22 Januari 2013

SEKOLAH DASAR, GOLOK DAN OBOR DARI BAMBU


Hari itu sungguh merupakan salah satu hari yang paling membahagiakan dalam hidupku. Anak-anak sebayaku ramai berkumpul di halaman tajug (mushala) tidak jauh dari rumahku. Hari itu adalah hari bersejarah bagi sebuah kampung yang bernama dusun Cipipisan, kampung yang sangat jauh dari keramaian, jauh dari hiruk pikuk, bahkan kampung ini terpisah dari desa induknya, desa Bunigeulis. Untuk pergi ke desa pun butuh waktu satu jam berjalan kaki, kurang lebih 5 kilometer jauhnya. Sebuah dusun yang dikelilingi hutan, sawah dan perbukitan, nyaris tidak ada tanah lapang dan datar. Terjal. Nyaris tidak ada kendaraan yang lewat di kampungku, kalaupun ada hanya mobil bak terbuka yang sanggup melawan medan yang begitu berat. Jenis kendaraan yang menjadi andalan kami untuk bepergian, selain truk.

Itulah gambaran kampung halaman tempatku dilahirkan, kawan. Kampung yang masih hijau, hampir tidak terjamah oleh peradaban, tanpa listrik, tanpa televisi, satu-satunya sarana hiburan bagi kami hanya bunyi radio transistor yang sering bersahut-sahutan dari rumah-rumah tetanggaku, alunan musik jaipong, wayang golek, dangdut dan jika sore hari siaran dongeng bahasa sunda. Begitupun dengan kebiasaan anak-anak di kampungku, gemar bermain dengan alam, mencari kayu bakar, menyabit rumput untuk makanan kambing, berenang dan mancing di sungai yang airnya jernih, dan kegiatan lain yang akrab dengan alam. Namun terkadang aku iri dengan mereka, aku tidak banyak mempunyai kesempatan sebebas mereka. Orang tuaku, terutama ibu kerap melarang aku memanjat pohon, mencari kayu bakar di hutan, mandi di sungai bahkan terlarang hanya untuk bermain panas-panasan. “Nanti kamu sakit”, begitu katanya. Akhirnya aku bisa maklum mengapa banyak larangan untukku. Konon waktu aku masih bayi, harapan hidupku sangat tipis, tubuhku tak ubahnya seperti wayang golek, wayang yang terbuat dari kayu. Lemas, hanya kulit pembalut tulang.

Aku suka sekali dengan bubur buatan ibuku, kawan. Kalau aku sakit demam, aku sering dibuatkan bubur. Karena saking sukanya dengan bubur, setiap kali ibuku melarang untuk bermain panas-panasan, aku sering jawab “biar saja aku sakit, nanti kan ibu buatkan bubur buat aku”.

Aku keluar dari rumahku dengan baju yang terbaru, dengan sepatu yang baru dibelikan ayahku dari pasar. Ya, hari itu adalah hari pertamaku masuk sekolah bahkan hari itulah hari pertama ada sekolah di kampungku. Sebelumnya sekolah dasar hanya ada di desa yang letaknya jauh dari tempat tinggalku, harus berjalan kaki 5 kilometer. Pertanyaannya adalah, mengapa kami kumpul di Tajug, tidak di halaman sekolah? Karena belum ada bangunan sekolah di kampung kami. Satu-satunya bangunan yang bisa dipakai untuk kebutuhan publik hanya Tajug itu.  Tajug itupun jarang dipakai, masyarakat di kampungku pada saat itu memang bukan orang-orang yang memahami dan menjalani agamanya dengan baik, terutama dalam menjalakan ibadah yang berhubungan dengan Tuhannya. Hanya ketika shalat tarawih di bulan puasa saja tajug itu berguna, selebihnya hanya bangunan kosong tempat anak-anak bermain petak umpet dan perang-perangan.

Semua bergembira saat itu, dengan pakaian-pakaian terbaiknya kurang lebih 20 orang anak berjalan dari berbagai arah menuju ‘sekolah’ itu dengan membawa kursi dan meja. Karena belum ada sarana apapun di sekolah itu, maka kami diwajibkan membawa kursi sendiri dan satu meja untuk dua orang anak. Hanya ada satu perangkat fasilitas di sekolah itu, papan tulis dan kapur, plus sebilah golok dan obor dari bambu. Mengapa golok dan obor aku sebut kawan? Ah.. nanti kau tau sendiri jawabannya. Saat itu umurku baru 5 tahun, padahal syarat awal untuk masuk sekolah dasar harus berumur 7 tahun. Namun karena kekurangan murid di sekolahku, pak guru membujuk ibuku untuk menyekolahkanku saat itu. Awalnya ibuku hanya ingin aku ikut-ikut saja, bermain-main saja tanpa dimasukkan dalam daftar siswa kelas 1. Satu per satu nama-nama dipanggil oleh pak guru. Setiap nama yang dipanggil kami harus mengacungkan tangan dan mengatakan “ada”. Nama-nama perempuan dipanggil terlebih dahulu, “Suheni, Suprihatin, Syamsiah, Suhartati,……..” barulah kemudian nama-nama anak laki-laki yang dipanggil. “Sukidi, Nahridi, Muhadi, Darwa, Ermawan, Sukiwa,…. Rudianto,….”. Ah, nama-nama yang unik bukan? Kecuali namaku kawan. Namaku sangat berbeda dengan kebanyakan, seperti nama orang bersuku Jawa. Entah mengapa orangtuaku memberiku nama Rudianto, aku pun tidak pernah mempertanyakannya. Akhirnya aku terdaftar secara resmi sebagai anggota pasukan kelas 1. Anggota pasukan termuda di kelas itu.

Tidak banyak yang aku ingat saat-saat awal aku bersekolah, belajar membaca dan menulis, berhitung, menyanyi dan menggambar, bermain-main di halaman saat waktu istirahat, itu saja. Namun ada hal yang paling tidak pernah bisa aku lupakan hingga saat ini. Pak Guru. Dialah satu-satunya guru dan kepala sekolah di sekolah kami. Kami semua takut padanya. Dia cukup keras mengajari kami, suara bentakannya, sentilan jari tangannya di kuping, rambut di pelipis kami yang sering ditarik kalau salah menjawab atau dianggap tidak disiplin. Yang lebih menyeramkan lagi, dia sering memutar-mutar golok saat sedang mengajar atau mengawasi anak-anak yang sedang mengerjakan soal, bahkan pernah satu hari dia membawa obor yang menyala dalam kelas, jika ada yang salah menjawab atau mulutnya tidak bisa diam, tanpa segan dia akan menghampiri kami, menyorongkan obor yang menyala-nyala di hadapan wajah kami. Cukup dramatis dan menegangkan, bukan? Itulah mengapa aku katakan tadi kalau perangkat kelas yang kami punya termasuk golok dan obor dari bambu. Tapi di luar kelas, dia guru yang baik hati, kawan.

Setahun kemudian, barulah kampung kami mendapat bantuan bangunan sekolah dari pemerintah, sebuah SD Inpres impian kami. SD Lokasari namanya. Guru-guru pun mulai berdatangan mengisi kelas-kelas, mengisi bidang-bidang studi. Sekolahku kini dilengkapi dengan berbagai fasilitas penunjang termasuk perpustakaan sekolah. Tidak ada lagi golok dan obor dari bambu. Aku sangat suka mengunjungi perpustakaan, meski harus membayar agar aku bisa meminjam buku dan membawanya pulang. Uang jajan dua puluh lima rupiah perhari, kerap aku gunakan untuk meminjam buku perpustakaan. Setiap hari, kawan. Uang duapuluh lima rupiah bisa memperoleh 2 buah buku, dan aku akan segera mengembalikan keesokan harinya, meski masa tenggang peminjaman buku bisa 3 hari. Karena kegemaranku membaca buku, aku pernah mendapat penghargaan dari sekolah. Saat upacara bendera namaku diumumkan sebagai pembaca buku terbanyak, 666 buah buku. Saat itu aku duduk di kelas 4. Kalau dihitung hingga kelas 6 aku rasa lebih dari 1.000 buah buku yang pernah aku baca. Sebuah prestasi yang saat ini aku rasa tidak akan bisa diulangi lagi.

Di sekolah ini juga aku belajar berbisnis, kawan. Dan sebetulnya aku punya bakat bisnis. Selain bertani, orang tuaku juga mempunyai warung yang menyatu dengan rumah kami. Berjualan kebutuhan sehari-hari, jajanan anak-anak bahkan mie bakso. Setiap hari aku selalu membawa dagangan yang aku bawa dengan kantong plastik untuk dijajakan kepada teman-teman sekolah dan para guru. Pulang sekolah aku menghitung hasilnya dan memberikannya kepada ibuku. Hasilnya lumayan, bisa membantu orang tua. Dan lebih lagi, aku bisa belajar berusaha sendiri, belajar bernegosiasi, belajar jujur atas apa yang aku dapat.

Sekolah kami juga kedatangan guru agama, kami memanggilnya pak ustadz. Dialah orang yang sangat berjasa membangun kampung kami menjadi lebih religius. Tajug tidak lagi sepi dan hanya tempat bermain anak-anak, setiap sore anak-anak berkumpul untuk bejalar mengaji dan shalat berjamaah, begitu juga aku. Dan mulai saat itu pula didirikan shalat Jum’at di kampung kami, yang sebelumnya harus pergi ke Desa hanya untuk shalat Jum’at.

Ah, kelebat-kelebat bayangan masa kecilku sering menghampiri dan menemaniku saat-saat aku merenungi perjalanan ini.

Rabu, 19 Desember 2012

Adonara, aku ingin kembali...

Adonara, sebuah pulau yang hanya berupa noktah hitam dalam peta Indonesia. Wilayah ini berada di Kab. Flores Timur, Nusa Tenggara Timur. Pulau kering dan tandus itu menyimpan banyak cerita yang hampir tak pernah terangkat di media massa, baik media cetak maupun layar kaca. Cerita tentang kebersamaan, cerita tentang perjuangan hidup, cerita yang selalu ingin membuat kita kembali.

Coklat. Aku melihat warna coklat dimana-mana. Aku mencium bau tanah kering kecoklatan, tandus, hampir tidak ada pohon rindang yang sudi berdiam diri diatasnya. Hanya jambu mede, kelapa dan ubi kayu yang bisa bertahan hidup, tumbuh di sela-sela tanah kering dan bebatuan. Debu jalan beterbangan tersapu angin ketika sebuah mobil bak terbuka lewat, menyisakan udara pekat berwarna coklat. Atap-atap rumah yang terbuat dari rumbia berwarna coklat. Perempuan-perempuan membawa air dalam ember plastik yang diletakkan di kepala berjalan tegak beriringan dengan sebelah tangannya memegang ember di kepala. Kain tenun tradisional dengan corak khas juga didominasi warna coklat hitam melilit di pinggang mereka.


Adonara, pulau yang baru kutahu namanya ketika aku berkunjung ke sana. Pulau kecil yang hanya berupa noktah hitam dalam peta Indonesia, kering dan tandus, namun selalu membuatku rindu untuk kembali. Sebuah pulau yang tak pernah kudengar namanya dalam pelajaran geografi di sekolah. Bagiku, Pulau Adonara menyimpan banyak cerita, bahkan jauh lebih berharga dari sejarah bangsa ini yang banyak direkayasa demi kepentingan segelintir penguasa.


Pulau Adonara berada di antara Pulau Flores dan Pulau Lembata. Kondisi alam yang tandus dan kering, sumberdaya alam yang kurang memadai, memaksa sebagian penduduk, terutama para lelaki untuk mencari penghidupan yang lebih baik di luar wilayahnya, bahkan ke negeri tetangga; Malaysia. Mereka meninggalkan anak dan istrinya yang bertahan hidup sendirian, bahkan terkadang meninggalkan hutang-hutang karena kepergiannya. Tak jarang mereka pergi merantau dan tak pernah kembali, entah mereka lupa akan tanah leluhurnya, lupa akan anak istrinya, bahkan banyak diantara mereka yang kawin lagi di perantauan. Kondisi tersebut menyisakan beban hidup dan kepedihan yang mendalam bagi para istri, perempuan yang ditinggalkan.


Juni tahun 2003, awal perkenalanku dengan pulau Adonara. Ketika itu aku menjadi bagian dari proses pembuatan video dokumenter tentang kisah hidup para perempuan yang terpaksa berperan sebagai kepala keluarga. Kegiatan ini merupakan rangkaian dari kegiatan lokakarya pembuatan video yang dilaksanakan di Bali sebelumnya. Kami berlima menjadi satu tim produksi dengan dengan tugas dan tanggungjawab masing-masing. Anna Har, sang sutradara, seorang perempuan yang aku kagumi, suhu utamaku, dia seorang ahli pembuat film dari Malaysia, yang juga fasilitator pelatihan. Adi Nugroho, teman kerjaku di PEKKA sebagai produser, yang bertanggungjawab terhadap jalannya pelaksanaan produksi. Yoga Atmaja, seorang lelaki Bali dari Yayasan Wisnu yang lebih banyak berperan sebagai pewawancara dan editor. Sedang aku dan seorang lagi teman dari Yayasan Nen Mas Il, Veggy Elmas namanya, berperan sebagai penata kamera.


Proses pengambilan gambar memakan waktu 4 hari terasa sangat melelahkan. Pagi-pagi buta, sebelum sang fajar menampakkan sinarnya, kami harus bangun karena dalam pembuatan film dokumenter, terutama film yang mengangkat profil seseorang haruslah mengikuti kegiatannya dari sejak orang tersebut terbangun dari tidurnya. Namun keletihan dan kelelahan fisik terbayar lunas dengan apa yang kudapat. Banyak hal yang aku pelajari dari kawan-kawan satu tim, terutama Anna. Anna mengajariku bagaimana menjadi seorang sutradara, bagaimana mengarahkan kamera agar gambar yang dihasilkan adalah gambar terbaik dan bisa digunakan untuk menyampaikan pesan. Aku berusaha menyerap sebanyak mungkin ilmu yang dimilikinya, bagaimana memilih tokoh yang bisa mendukung cerita, teknik mewawancarai yang baik yang memungkinkan narasumber yang diwawancarai bisa bercerita dengan leluasa.


"Nama saya Lucia Ola Ina, anak saya tiga orang, suami saya pergi ke Malyasia 7 tahun, tidak ada berita.” Kalimat tersebut bisa dengan lancar diucapkan oleh Olin, sapaan akrab perempuan tersebut setelah beberapa kali kami melakukan pengulangan pertanyaan. Olin adalah salah seorang perempuan kepala keluarga yang menjadi narasumber kami, perempuan yang menanggung beban hidup, menafkahi dan membesarkan ketiga anaknya sendirian. Wajahnya yang polos dan hampir tidak ada ekspresi itu akhirnya bisa bercerita. Olin hidup dari mengurus kebun dan berjualan “papalele” hasil kebun di Pasar Senadan, pasar tradisional di Kecamatan Ile Boleng. Beban berat yang dipikulnya menyebabkan dua orang anaknya tidak bisa bersekolah. Olin tinggal di sebuah gubuk berukuran kira-kira 3 x 4 meter yang dindingnya terbuat dari bambu, hanya ada satu ruangan tanpa penyekat yang berfungsi sebagai ruang keluarga, kamar tidur, ruang tamu sekaligus dapur dengan segala perlengkapannya. Namun aku tidak melihat kesedihan di wajahnya, tak ada rasa dendam dan marah meski suaminya pergi sekian lamanya tanpa kabar dan berita, apalagi kiriman uang untuk menghidupi keluarganya.


"Harus sabar, pasrah dan berdoa,” hanya itu yang terujar dari wajah polosnya. Begitupun anak-anaknya, mereka bermain dengan riang di halaman rumah, begitu gembira.


Lain lagi halnya Anas, seorang perempuan kepala keluarga yang ditinggal kawin oleh suaminya. Dia menanggung beban seorang diri untuk menghidupi kedua anak dan ibunya yang sudah tua. Beban bertambah berat, karena Anas terikat dengan aturan adat, ketika ada anggota keluarga, kerabat atau tetangga yang meninggal, keluarganya tetap mempunyai kewajiban untuk menyerahkan 3 – 4 kain sarung tenun buatannya. Kain tenun yang per helainya diselesaikan dalam waktu 4 hari harus diserahkan kepada orang lain, tidak bisa ditawar lagi. Bukan itu saja, anaknya yang diurusnya sedari kecil, ketika sudah dewasa nanti akan menjadi milik keluarga laki-laki meskipun suaminya tidak menafkahi.


Itulah sepenggal cerita dari narasumber yang kami wawancarai. Kepedihan, kemiskinan, perjuangan hidup, ketabahan, menjadi bagian hidup yang tak terpisahkan. Kehidupan yang sarat dengan beban mereka jalani dengan kepatuhan tanpa syarat. Aturan adat yang menempatkan perempuan pada lapisan terbawah dalam tatanan kehidupan di masyarakat, mereka jalani dengan kepasrahan tanpa pilihan, bahkan mereka tidak mampu menentukan hidupnya sendiri. Aku kagum akan kegigihan, semangat dan keikhlasan mereka menjalani hidup. Aku benar-benar merasa tidak berarti dihadapan mereka.


Salah satu isu yang akan kami angkat dalam film adalah persoalan adat yang banyak menyebabkan perempuan terpinggirkan. Salah satunya tentang budaya belis.


Perkawinan di Adonara dan Flores Timur pada umumnya, ditandai dengan pemberian belis (mahar) berupa gading gajah yang menurut logika tidak akan ditemui di daratan Adonara. Belis yang bernilai sangat tinggi yang diberikan oleh pihak laki-laki mengandung pemahaman bahwa perempuan telah dibeli dan menjadi milik keluarga atau suku dari pihak laki-laki. Ini mengakibatkan laki-laki seolah-olah bebas untuk memperlakukan istri sesuai kehendaknya.


Dan tentu saja penyebab utama dari semua permasalahan adalah budaya patriarki yang sudah mengurat mengakar, yang dipatuhi kebanyakan orang melebihi kepatuhan akan agama.


Banyak hal menarik ketika kami melakukan proses pengambilan gambar, terutama saat kami mengambil prosesi adat pernikahan. Malam kedua di Adonara, di lapangan depan balai desa banyak orang berkerumun. Hampir seluruh penduduk kampung ingin melihat kami beraksi mengambil gambar. Para perempuan duduk di samping kiri lapangan dengan berselimutkan kain tenun, berderet rapi bagai duduk di bangku bioskop menanti film diputar. Para tetua adat dan tokoh masyarakat duduk di bagian depan dengan kursi yang khusus disediakan bagi mereka. Sementara di sisi lain, para pemuda berdiri dan bercengkrama, mengepulkan asap rokok dari mulut dan hidung mereka. Bagi mereka, mungkin ini hiburan yang menyenangkan. Dengan lampu-lampu petromak sebagai alat penerang karena aliran listrik yang tak menentu. Beruntung kami bisa mempunyai cadangan baterai yang cukup untuk proses syuting. Kami disambut bak rombongan pejabat, dengan upacara adat, dengan tarian-tarian tradisional, dikalungi selendang tenun satu persatu. Mereka dengan ramah menyapa kami, terutama Anna karena dia berasal dari Malaysia. Bagi mereka, nama Malaysia begitu akrab di telinga karena banyak diantara mereka yang menggantungkan hidup dengan bekerja sebagai pekerja migran di Malyasia.


Aku hampir tak percaya dengan yang kulihat saat itu, pengambilan gambar proses pernikahan yang dalam bayanganku hanya akan dihadiri sebagian orang, ternyata tidak demikian. Begitu meriah seakan itu pesta pernikahan sungguhan. Beberapa ekor kambing jantan yang besar dengan tanduk panjangnya digiring ke tengah lapangan. Gading gajah, sebagai mahar atau belis diarak beberapa orang laki-laki. Mempelai pria dan perempuan berperan bak pengantin sungguhan. Tanpa casting, tanpa skenario, tanpa naskah cerita. Dalam pesta itu, ditampilkan juga kesenian-kesenian tradisional, mulai dari tari bambu, kidung, tari perang dan banyak lagi yang tak kuingat semuanya. Para perempuan tua menari dan bernyanyi, nyanyian yang akhirnya kutahu sebagai keluh kesah para perempuan yang ditinggal suami. Pengambilan gambar prosesi pernikahan adat berlangsung dengan lancar. Hampir tengah malam kami baru pulang ke tempat penginapan. Rasa lelah mendera, namun aku puas dengan apa yang aku kerjakan hari itu.


Akhirnya proses syuting yang melelahkan usai. Kami kembali ke Bali membawa material gambar untuk dilakukan penyuntingan. Proses penyuntingan dilakukan di kantor Yayasan Wisnu di Bali dan menghabiskan waktu 3 hari. Setelah proses penyuntingan selesai dilakukan, kami memberi judul “Melawan Bayangan, Menenun Masa Depan”. Judul tersebut mengandung arti bahwa bagi siapapun yang ingin melakukan perubahan terhadap budaya, terhadap kesenjangan yang terjadi, ibarat melawan bayangan, sesuatu yang sepertinya mustahil untuk dilakukan. Namun tidak ada yang tidak mungkin dilakukan, hanya perlu kesabaran dan proses yang terus menerus seperti seorang perempuan yang dengan tekun dan teliti menenun lembar demi lembar benang menjadi sehelai kain. Ketika kami menonton bersama film yang telah diedit, aku masih bisa merasakan haru, meski aku terlibat penuh dalam proses pengambilan gambar.


Adonara menyimpan banyak cerita. Adonara mengajariku banyak hal. Adonara membuatku rindu untuk kembali.


Salam

Senin, 17 Desember 2012

SETENGAH JAM SAJA


Aku melihat raut wajah perempuan paruh baya itu begitu sumringah, namun tetes air matanya tak kuasa ia bendung, entah sedih, entah terharu, entah juga bahagia atau apa. Aku tak tahu pasti asa yang ada di benaknya, ketika malam itu ia menerima pemberian sebuah kursi roda untuk anak laki-laki satu-satunya, setelah belasan tahun dinantinya.

Anastasia Kidi Sabon nama perempuan paruh baya itu. Anas nama panggilannya.  Berambut kriting, berkulit legam dengan gurat-gurat tegas pada raut wajahnya. Penampilan fisiknya menyiratkan ia seorang pekerja keras,  seorang penyintas kehidupan dengan segala keterbatasannya. Anas, demikian ia dipanggil, adalah penduduk asli di desa Pledo, kecamatan Witihama, di sebuah pulau bernama Adonara, Nusa Tenggara Timur. Sebuah pulauyang hanya terlihat seperti noktah hitam dalam buku peta Indonesia.

Anas tinggal bersama keluarganya di sebuah rumah sederhana, berdinding tembok meski tanpa plester dan cat, beratap seng tanpa plafon. Sekilas nampak tidak ada hal yang istimewa yang terjadi di rumah ini. Namun, dugaanku meleset kawan. Di rumah inilah aku mendengar cerita utuh tentang perjuangan hidup, melihat potret dan gambar muram penderitaan hidup yang lengkap. Rumah itu bukan miliknya, kawan. Dia hanya menumpang di rumah yang tidak dihuni pemiliknya itu. Itupun, tidak lama lagi Anas harus pindah dan tencari tempat hunian baru, karena rumah yang ditempatinya saat ini akan segera diambilalih oleh pemiliknya. Semula ia tinggal di rumah warisan orang tuanya, namun karena adat yang menentukan bahwa rumah warisan hanya diperuntukkan utuk anak laki-laki paling kecil di keluarganya, hingga Anas harus ‘terusir’ dari rumahnya dan menempati rumah pinjaman itu hingga saat ini. Aturan adat di Adonara sangat dipegang teguh oleh seluruh anggota masyarakat, menjadi acuan utama dalam proses-proses pengambilan keputusan di tingkat keluarga maupun tetua-tetua adat dalam pengambilan keputusan yang lebih luas di masyarakat.

Di keluarganya, Anas adalah pemimpin dan pengayom sejati bagi suami dan anak laki-laki satu- satunya. Kepala keluarga sesungguhnya. Perlu kau tahu kawan, suami yang dicintai dan dilindunginya itu menderita kebutaan total pada kedua matanya lebih kurang 11 tahun yang lalu. Konon ketika ia masih kecil, kepala bagian belakangnya tertimpa dahan pohon hingga ia jatuh pingsan di kebun. Tak ada orang lain yang melihat dan menolongnya hingga ia siuman dan pulang ke rumah sendirian. Mungkin, itulah yang menjadi penyebab kebutaan pada kedua matanya 30an tahun kemudian. Laki-laki itu kini hanya bisa menggantungkan hidup kepada sang istri, tidak punya pekerjaan apa-apa. Sesosok laki-laki lain yang menjadi tanggungjawab Anas adalah anak semata wayangnya, Ebi namanya. Ia yang kini duduk di bangku SMA kelas 2, menderita cacat pada kedua kakinya sejak kecil. Mungkin dulu terkena folio, pikirku. Hingga kini, ia harus berjuang keras untuk berjalan dengan cara menyeret-nyeret kedua kakinya. Begitu setiap hari kawan, hingga di kedua telapak kakinya yang tidak sempurna itu, tumbuh benjolan-benjolan keras yang biasa orang sebut ‘kapalan’. Namun dengan segala keterbatasan yang dimilikinya, ia tetap gigih untuk meneruskan sekolahnya.

Kondisi ini memaksa Anas menjadi penopang utama di keluarganya. Sudah belasan tahun Anas dan keluarganya menjalani hidup sedemikian getir. Berkubang  dalam genangan kemiskinan yang demikian hitam dan berbau. Demi menyambung hidup dan menafkahi kedua orang yang dicintainya itu, sehari-hari Anas bekerja mencari upahan untuk membersihkan kebun milik orang lain. “Kalau saya bawa bekal sendiri, saya diberi duapuluh lima ribu sehari. Tetapi kalau tidak bawa bekal dan diberi makan oleh yang punya kebun, saya diberi lima belas ribu”.  Lima belas ribu rupiah, kawan. Uang sejumlah itulah yang dibawanya pulang saat hari menjelang petang. Penghasilan yang jauh di bawah rata-rata pendapatan per kapita penduduk Indonsia. Pun, belum tentu setiap hari ada orang yang memberinya pekerjaan membersihkan kebun. Jika tidak ada orang yang membutuhkannya membersihkan kebun, Anas juga biasa menjadi buruh mengangkat pasir. Kerja kasar apapun ia lakukan demi keberlangsungan hidup anggota keluarganya. Sebuah potret kemiskinan yang akut.

Tentu kau bertanya-tanya, kawan. Bagaimana ia bisa pergi meninggalkan kedua orang yang dikasihinya itu di rumah, sedang mereka semua sangat bergantung pada pertolongan orang lain? Setiap pagi ia harus menyiapkan segala kebutuhan suami dan anaknya, menyediakan sarapan, mengantar dan memapah anaknya ke sekolah. Ia pun harus meletakkan segala kebutuhan suami pada tempat yang telah mereka atur sebelumnya, agar suaminya ketika tidak ada orang lain di rumah melayani sendiri meski ia tak bisa melihat apa-apa. Di siang hari ia masih harus menjemput anaknya di sekolah dan mengantarnya pulang ke rumah, dan setelah itu ia kembali ke kebun untuk melanjutkan pekerjaannya. Sebuah sketsa penderitaan dan perjuangan hidup yang lengkap, kawan.

Sudah belasan tahun Anas bercita-cita dan memimpikan sebuah kursi roda untuk anak yang dicintainya. Agar tidak lagi ia melihat anaknya berjalan dengan menyeret-nyeret kedua kakinya. Namun itu hanya angan dan mimpi saja, dia tidak tahu lagi cara mendapatkan uang untuk membelinya. Anas pun lantas berusaha mengajukan permohonan bantuan pada dinas sosial di kabupaten Flores Timur. Sudah puluhan kali Anas bolak-balik ke  kantor dinas sosial di kabupaten, untuk mengurus permohonan bantuan kursi roda itu, meski harus menempuh perjalanan jauh melalui jalan darat dan menyeberangi laut. Namun, sudah bisa ditebak. Seperti biasanya. Yang dibawaanya pulang hanyalah janji-janji. Seakan para pejabat pemerintahan itu merasa sudah memenuhi kewajibannya dengan memberikan janji yang hingga saat ini tidak pernah diwujudkannya. Seperti janji-janjinya para politikus saat pilkada dan pemilu tiba, begitu betebaran, dijual murah, diobral bahkan digratiskan bagi siapa saja yang mau menjadi pengikutnya. Namun saat mereka terpilih menjadi anggota dewan dan duduk di pemerintahan, mereka dipastikan lupa, pura-pura lupa atau belajar menjadi pelupa atas segala janji busuknya.

Namun malam itu, aku menyaksikan serombongan ibu-ibu yang mempunyai nasib dan kehidupan yang hampir sama dengan yang dialami Anas, membawakan sebuah kursi roda untuk anaknya. Sebuah kepedulian sosial yang tulus dan ikhlas. Sebuah kepedulian sosial yang didasari oleh rasa kebersamaan, rasa senasib. “Ini kami beli dari dana iuran anggota kelompok yang dikhususkan untuk bantuan-bantuan sosial bagi anggota masyarakat yang membutuhkan seperti keluarga Anas”, ujar salah satu orang perwakilan dari mereka. Para perempuan ini tergabung ke dalam wadah kelompok perempuan kepala keluarga, komunitas bagi perempuan yang menjadi penopang dan tumpuan hidup bagi keluarganya dengan berbagai sebab, seperti halnya Anas.

Saat  Anas menerima pemberian kursi roda itu, aku melihat raut wajah perempuan paruh baya itu begitu sumringah, namun tetes air matanya tak kuasa ia bendung, entah sedih, entah terharu, entah juga bahagia atau apa. Aku tak tahu pasti asa yang ada di benaknya, ketika malam itu ia menerima pemberian sebuah kursi roda untuk anak laki-laki satu-satunya, setelah belasan tahun dinantinya. Hanya setengah jam saja aku berada di rumah itu, namun begitu banyak pelajaran dan cerita yang aku dapat. Setengah jam saja, aku menyaksikan sendiri  kisah nyata perjuangan dan penderitaan sebuah keluarga dalam himpitan kemiskinan dan kepasrahan tanpa syarat.

Sementara itu, aku menyaksikan sang kepala negara yang sebagian kader partainya sedang terseret kasus korupsi, berpidato di sebuah televisi swasta, dan mengatakan bahwa “kita harus melindungi para pejabat pemerintah yang terseret kasus sementara sebetulnya mereka tidak berniat untuk melakukan tindak korupsi”. Meski aku tidak begitu paham apa maksud dari ucapannya itu, tapi kalimat itu terasa menyakitkan menurutku, mereka tak pantas dibela, biarkan mereka mempertanggungjawabkan perbuatannya, biarkan proses hukum yang membuktikannya. Mungkin, sang presiden tidak pernah sekalipun menyaksikan potret buram keluarga Anas, tidak pernah mendengar cerita-cerita muram dari kerak kemiskinan yang keras menghitam, dan.... pahit.

Salam