Minggu, 04 November 2012

GARIS TANGAN


Sebatang rokok dengan asap yang mengepul hampir tak pernah lepas dari capitan bibirnya. Ketika asap masuk dia hisap dalam-dalam, dan ketika keluar dia hembuskan kuat-kuat.  “Kalau aku tidak merokok, ngantuk nanti aku bawa mobil”, demikian alasannya ketika kami memintanya untuk menutup kaca jendela, menyalakan pendingin dan yang pasti tidak menyalakan rokok dalam mobil. Namun akhirnya ia sepakat, selama dalam perjalanan tidak akan merokok dalam mobil, dan kami berjanji memberinya kesempatan untuk berhenti di pinggir jalan jika keinginan kuatnya untuk merokok tak bisa dihentikan.

Rokok bagi sebagian besar orang di Indonesia, terutama laki-laki sudah menjadi kebutuhan pokok, bahkan melebihi kebutuhan akan makan dan minum. Menurut laporan badan kesehatan dunia (WHO) tahun 2008, Indonesia adalah negara ketiga terbesar ketiga pengguna rokok di dunia. Lebih dari 60 juta penduduk Idonesia tidak berdaya karena terjajah kecanduan nikotin. Rokok juga tidak mengenal usia dan status sosial, bahkan tercatat keluarga miskin membelanjakan 12,4% pendapatannya untuk membeli rokok, mengorbankan kebutuhan pokok lainnya seperti kesehatan, gizi keluarga dan pendidikan. Dan kenyataannya, konsumsi rokok semakin meningkat setiap tahunnya. Padahal menurut ketua komnas pengendalian tembakau (Dr. Farid Anfasa Moeloek) di Republika 29/9, konsumsi rokok yang terus menerus akan merugikan negara 245 trilyun setiap tahunnya akibat biaya pengobatan penyakit yang diakibatkan oleh rokok. Tapi kenapa rokok makin menjamur dengan segala merek, ukuran, rasa dan warna? Aku tak tahu kawan, ilmuku belum sampai ke sana. Nanti aku cari tahu. Sebetulnya aku juga bukan mau menulis soal rokok, tapi aku tak tahan berkomentar gara-gara si sopir tadi yang tidak bisa lepas dari rokok. Dan sekedar memberi gambaran tentang kenyataan yang memang ada.

Kembali ke cerita sang sopir tadi. Dia adalah sopir angkutan sewaan (travel) yang diminta untuk mengantarkan kami dari Makassar menuju Bone, Sulawesi Selatan dalam rangka mengunjungi ibu-ibu Pekka dan pembuatan film dokumenter tentang kehidupan mereka. “Saya Salman, ingat saja bintang film dari India”, ujarnya ketika kami menanyakan namanya. Bintang film India yang dia maksud mungkin Salman Khan. Namanya hampir sama, tapi nasibnya tak serupa, pun wajahnya jauh panggang dari api (maaf bukan aku menghina kawan, sekedar memberi tahu kalau wajahnya sama sekali tidak mirip Salman Khan). Usianya lebih kurang 40 tahun, tapi wajahnya terlihat lebih tua dari usianya. Apakah ini pengaruh kecanduan rokok tingkat tinggi? Aku juga tidak tahu kawan, apakah akibat dari merokok juga menyebabkan seseorang terlihat lebih tua dari usianya. Ilmuku belum sampai ke sana. Nanti aku cari tahu.  Tubuhnya kurus, berkulit hitam, bibirnya hitam karena tumpukan nikotin, rambut bagian atasnya dicat warna merah. “Rambutku sudah banyak ubannya, jadi aku kasih saja warna mih”. Apakah semua itu juga pengaruh kecanduan nikotin, sekali lagi aku tidak tahu kawan. Ilmuku belum sampai ke sana. Nanti aku cari tahu.

Singkat cerita, selama di perjalanan kami banyak bercerita hal-hal yang ringan sekedar mengalihkan Salman untuk tidak mengantuk saat menyetir. Gayanya mengendara sangat mengkhawatirkan dan membuat nyali kami diuji. Jalan yang kami lalui penuh liku, tanjakan dan turunan curam, hampir tidak ada jalan yang lurus. Namun dia tetap memacu kencang laju mobil, klakson dibunyikannya keras-keras ketika ada kendaraan lain di depannya, seakan meminta orang untuk minggir dan memberikannya jalan. Sangat arogan. Dan kami, sungguh tidak berdaya, hanya bisa pasrah dan menyerahkan segala urusan keselamatan kami kepada Tuhan dan Salman. Bukan tidak ada usaha, sudah kami ingatkan berulang kali, namun tetap saja tidak ada perubahan. “Tidak ngebut, seperti ini sudah biasa”, tandasnya saat kami berusaha memintanya untuk sedikit lebih mengendurkan laju mobilnya.

Tibalah kami pada cerita tentang keluarganya. “Anak saya tiga, yang paling besar sudah kuliah”. “Istrinya satu kan?” Tanya kawan di sampingku, seorang perempuan yang telah malang melintang di dunia penguatan dan pemberdayaan kaumnya, langsung pada jantung permasalahan. Tapi apa jawabannya kawan? “Dua mbak. Istri saya dua”. Aku sedikit terperanjat, sedikitpun aku tidak menyangka orang sepertinya bisa punya dua istri. Ah, seharusnya bukan begitu aku tulis, memangnya ada ciri-ciri secara fisik orang yang melakukan poligami? Sepertinya tidak ada. Tapi itu yang ada di benakku kawan. Yang membuat aku penasaran, enteng sekali dia menjawab itu, sangat jujur. Menandakan bahwa tidak ada yang perlu disembunyikan, hal yang sudah sewajarnya.

Sontak, kami berempat antusias berebut pertanyaan. Istri tua tahu nggak kalo abang kawin lagi? Istri muda tau nggak kalo abang sudah punya istri? Anak-anak tahu nggak bapaknya kawin lagi? Berondongan pertanyaan kontan terlontar dari mulut kami. “Istri yang tua tidak tahu mbak, kalau saya kawin lagi, anak-anak tidak tahu, tetangga-tetangga dekat juga tidak ada yang tahu. Dan jangan kasih tahu ke orang, bisa gawat nanti”. Dia berusaha menjawab satu per satu.

Kalau ingin lebih jelas bagaimana tanya jawab yang terjadi antara kami berempat dengan Salman, kurang lebih seperti inilah kawan.
Tanya : Bagaimana dengan istri muda?
Jawab: Kalau istri yang muda tahu kalau saya sudah beristri.
Tanya: Kenapa dia mau, kalau abang udah beristri?
Jawab: Saya juga tidak tahu, saya sudah bilang ke dia kalau saya sudah punya istri dan anak, tapi dia tetap mau. Saya bilang, kalau kamu mau ya sudah mih, kita kawin. Kalaupun tidak mau ya tidak apa-apa.
Tanya: Memang abang nggak kasihan sama istri-istri abang?
Jawab: Yah, bagaimana lagi, memang sudah begitu mbak. Mungkin sudah garis tangannya dia kawin sama saya yang sudah beristri. Kita kan tidak bisa berbuat apa-apa.
Tanya: Jadi sudah garis tangan pula kalau abang ini poligami?
Jawab: Iya, he..he..
Tanya: Bagaimana dengan kebutuhan hidup mereka?
Jawab: Istri saya dua-duanya sudah punya penghasilan sendiri, jadi saya hanya tanggungjawab menghidupi anak-anak saja, saya sekolahkan. Kalau istri muda tidak punya anak. Saya punya cita-cita bisa kawin lagi.
Tanya: Berapa targetnya bang?
Jawab : Mungkin 5.

Singkatnya seperti itulah tanya jawab antara kami. Ironis sekali kawan, apa yang diperbincangan sangat melukai hati kami sebetulnya. Sementara kami mengunjungi para perempuan yang notabene sebagian dari mereka adalah korban dari relasi kuasa yang tidak setara antara laki-laki dan perempuan, namun di hadapan kami saat ini ada sesosok mahluk yang menjadi salah satu peyebab terpuruknya perempuan pada titik terendah dalam relasi kekuasaan tersebut. Dan satu ‘pelajaran’ yang kudapat hari itu kawan, “garis tangan”. Menurutnya sudah garis tangannya kalau perempuan itu punya suami yang kawin lagi, sudah garis tangannya kalau seorang perempuan menikah dengan laki-laki yang beristri, sudah garis tangan pula bagi laki-laki yang berpoligami. Garis tangan, katanya. Semua sudah ada yang mengatur. Enteng sekali dia menjawab itu, seakan itulah jalan hidupnya yang sudah digariskan Tuhan. Buat dia itu bukan masalah, hal yang biasa. Tapi bagaimana perasaan istri tuanya jika dia tahu suaminya menikah lagi. Aku rasa pasti terpikir olehnya, tapi lagi-lagi bagi seorang laki-laki itu hal yang biasa. “Di sini memang banyak laki-laki yang berpoligami, sudah biasa”, ujarnya seakan ingin bersembunyi dibalik kebiasaan masyarakat tentang apa yang dilakukannya. Pernahkan terpikir olehnya, bagaimana penderitaan seorang Husna, Ibu Heti (pernah aku ceritakan sebelumnya) dan beribu perempuan lain yang ditinggal kawin lagi? Ah, itu sudah biasa kawan. Semua orang menganggap itu hal wajar. Perempuan hanya tinggal pasrah dan berdoa, dan seharusnya begitu.

Aku jadi teringat seorang kiyai kondang yang sangat disukai banyak orang karena isi dakwahnya, tapi akhirnya memutuskan untuk berpoligami. Kejadian ini kontan memicu perdebatan, hujatan, pro dan kontra. Dan ketika masalah poligami menjadi bahan pembicaraan pada pengajian yang pernah aku ikuti, jawaban yang sering kudapat adalah “kalau belum sampai ilmunya, lebih baik kita tidak banyak berkomentar soal itu”. Rupanya ada ilmu tersendiri untuk bisa berpoligami. Berbedakah seorang kiyai poligami dengan sopir travel yang poligami? Menurutku sama saja kawan, tidak ada beda. Bagiku, dan mungkin bagi sang sopir itu, poligami itu tidak ubahnya seperti origami. Kalau origami adalah ilmu melipat kertas, sedang poligami hanyalah ilmu melipat lidah dan tubuh. “Al-qur’an tidak melarang poligami”, itu juga yang sering kudengar dalam pengajian-pengajian. Benarkah begitu? Lagi-lagi aku tidak tahu, kawan. Nanti aku cari tahu kalau aku sudah bisa baca Al-Qur’an.

Sang sopir tetap menginjak gas, dan sesekali klaksonnya terdengar memaki keras. Asap rokok masih mengepul dari mulut dan kedua lubang hidungnya. Biasa saja.

Salam.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar