Minggu, 04 November 2012

Si Teteh Pulang Kampung


Cerita ini terjadi di rumahku, kawan. “Teteh” dalam bahasa Sunda adalah panggilan untuk perempuan yang lebih tua (kakak). Kata Teteh juga lazim digunakan pasangan keluarga di Jakarta dan sekitarnya untuk panggilan kepada pekerja rumah tangga (PRT) yang berasal dari Jawa Barat. Ketika kita membicarakan si ‘teteh’ di rumah, pasti orang akan mengerti bahwa kita sedang membicarakan PRT.

Heti nama panggilannya. Heti Koes Endang nama lengkapnya, persis seperti nama seorang penyanyi lawas yang serba bisa dan sangat kondang pada masanya. Heti adalah ‘teteh’ di rumahku. Dan seperti kebanyakan orang, kami pun memanggilnya dengan sebutan Teteh. Heti berasal dari suatu daerah di Pandeglang, Banten. Umurnya baru menginjak 14 tahun, usia untuk anak yang sepantasnya berada di bangku sekolah menengah pertama. Sudah lebih kurang 6 bulan dia tinggal di rumahku. Sejak pertama kali datang ke rumah, aku langsung ‘jatuh hati’ kepadanya. Jatuh hati di sini jangan diartikan macam-macam, kawan. Parasnya cukup cantik, tapi bukan itu yang kumaksud. Aku terenyuh melihat sendiri anak sekecil itu harus bekerja meninggalkan kampung halamannya hanya untuk membantu meringankan beban orang tua dan menopang kehidupan keluarganya. Dalam hati aku bertekad, ingin membantu mengubah cerita hidupnya, menyekolahkannya, mendidiknya, mengarahkan cara pandang hidupnya, dan dia bisa mengubah alur cerita kehidupan keluarganya.

Heti berasal dari sebuah keluarga yang sangat sederhana, boleh dikatakan miskin. Menurut cerita sih, aku juga belum tahu secara langsung bagaimana kehidupannya di desa sana. Heti mempunyai 2 orang adik yang berasal dari 2 orang bapak yang berbeda. Artinya, Ibu Heti sudah 3 kali menikah dan mempunyai 3 orang anak dari hasil perkawinannya tersebut. Masing-masing 1 orang anak dari hasil perkawinannya. Heti adalah buah hasil perkawinannya dengan suami yang pertama. Konon, ketika usia Heti menginjak 2 tahun 6 bulan, ketika kehidupan keluarganya berkecukupan, ketika keduanya dilimpahi kebahagiaan, bapak Heti tergoda oleh perempuan lain. Mungkin kata tergoda di sini tidaklah tepat, sangat bias dan mengesankan bahwa perempuan itu penggoda, yang jelas dia berpaling kepada perempuan lain dan pergi meninggalkan Istri dan anak perempuannya yang masih balita. Perceraianpun terjadi, meski hanya melalui penghulu kampung dan selembar surat cerai dari penghulu. Tidak dilakukan secara resmi di KUA, entah kenapa alasannya, akupun tidak menanyakannya lebih lanjut.

Tinggallah ibu Heti (aku nggak tahu namanya, jadi aku panggil ibu Heti saja) yang harus membesarkan sendiri anaknya. Harta gono-gini buah kerja mereka berdua selama berumah tangga memang dibagi dua, rumah dan sepeda motor dijual dan hasilnya dibagi dua. Namun jika harta tetap sudah menjadi harta lancar (ini istilah akuntansi, kawan) amatlah gampang menguap dan mengalir. Uang hasil penjualan harta gono-ginipun habis untuk mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari. Berharap dapat penghidupan yang lebih baik, ibu Heti pun memutuskan untuk menikah yang kedua kali dan dikaruniai seorang anak perempuan. Begitulah kawan, dari banyak cerita yang aku dengar langsung dari para perempuan yang memutuskan untuk menikah lagi dan lagi adalah demi perubahan kehidupan yang lebih baik, dari segi ekonomi pastinya. Namun malang, pengalaman pahit serupa kerap terulang, begitupun dengan ibu Heti. Setelah melahirkan anak yang kedua dari suami keduanya, kisah pernikahan pertama pun terulang kembali. Suami pergi dan meninggalkan beban derita, bertambah pula beban menghidupi satu orang anak lagi.

Pun tak membuat ibu Heti menjadi kapok dan jera. Harapan dan impian mempunyai keluarga utuh dan sejahtera tetap menjadi dambaannya. Selang beberapa tahun, diapun kembali menikah dengan seorang lelaki tukang kayu di desanya dan dikaruniai anak ketiganya. Pernikahan yang terakhir ini masih bertahan hingga saat ini. Penghasilan suaminya saat ini, ternyata tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, dan demi menambah pendapatan keluarga, ibu Heti pun berjualan di sebuah sekolah dasar di kampungnya. Dan Heti sebagai anak tertua, berusaha ikut andil dalam menambal celah-celah tembok kehidupan rumah tanggaanya dengan merantau ke ‘Jakarta’ dan bekerja di rumahku. Bagi orang kampung, Jakarta adalah tempat yang amat terkenal, mereka akan bilang tinggal di jakarta meskipun sebetulnya tempat tinggalnya di Bekasi, Depok, Tambun ataupun tempat lain di sekitar Jakarta.

Singkat cerita, enam bulan berselang sejak Heti tinggal di rumahku, anak-anak nampak akrab dengannya, diapun tampaknya tidak berkendala dan betah tinggal di rumah kami, namun hari ini aku mendapat mendapat kabar buruk. Kabar buruk buat kami tentunya. Konon Bapak Heti datang dari ‘pelariannya’ menemui ibu Heti untuk menanyakan keadaan anaknya. Tapi bukan itu kabar bukuknya, kawan. Bukan hanya menanyakan, namun lelaki itu menyalahkan ibu Heti karena anaknya tidak disekolahkan. Tunggu kawan, tentu kau bertanya-tanya, darimana aku dapatkan cerita ini. Begini ceritanya.

Tanpa kami duga, ibu Heti datang sendirian mengunjungi rumah kami. Tubuhnya kurus ramping, sorotnya menyiratkan kerja keras dan kegigihan, wajahnya nampak lebih tua dari usianya. Dan inilah kabar buruknya, dia bermaksud membawa Heti pulang untuk dipertemukan dengan bapak kandungnya. Dan yang lebih buruk lagi, kawan, lelaki itu meminta Heti untuk tinggal bersamanya. “Biar aku sekolahkan”, ujar Ibu Heti menirukan kata-kata lelaki itu. Konon laki-laki itu kini kembali ke kampungnya setelah sekian tahun merantau ke pulau seberang, dan membawa serta istri serta anak-anaknya dari perkawinan keduanya.

“Enak betul dia, selama ini ibu berjuang seorang diri mengurus dan membesarkan Heti, dan setelah anak ini besar, dia mau merebutnya dari ibu? Apakah tidak terpikir oleh ibu, betapa beban derita yang selama ini ibu rasakan karena ditinggalkan? Apakah pernah dia membawanya ke mantri atau puskesmas ketika anaknya gigil karena demam? Apakah pernah dia membujuk anaknya ketika dia tak henti menangis? Pernahkan dia menanyakan keadaan anaknya selama ini? Mungkin terlintas pun tidak, ibu. Kasihan sekali anak ini, selama ini dia tidak mengenal siapa dan bagaimana bapaknya, sekarang dia harus tinggal serumah dengan orang yang tidak di kenal meski itu bapaknya? Bahkan dia harus tinggal serumah juga dengan ibu yang lain, ibu yang telah merebut kebahagiaan ibu kandungnya?” (kata merebut, sekali lagi kuranglah tepat, itu juga bias, kawan. Seolah perempuan juga suka merebut suami orang, aku tidak bermaksud seperti itu.) ” Beribu pertanyaan beruntun yang aku dan istriku lontarkan. (Lebay juga sih, nggak mungkinlah ribuan pertanyaan hehe.. namanya juga kiasan kawan)

“Saya tidak tahu harus menjawab apa kepada bapaknya, setiap saya jawab dia langsung menimpali dan menyalahkan, mengapa saya tidak cerita kalau anaknya tidak disekolahkan. Dan saya baru sadar sekarang ini, setelah mendengar masukan dari ibu dan bapak, bahwa iya selama ini saya yang merawat dan membesarkannya, sekarang dia tinggal enaknya mau membawanya pergi”, ujarnya lirih dengan kepala tertunduk. Bayangkan kawan, bahkan untuk menyadari bahwa suaminya telah melakukan tindakan kekerasan dan bertindak tidak adilpun kepadanya baru terucap setelah mendengar ocehan dari kami. Berarti selama ini? Dia menganggap semua itu hal yang wajar dan lumrah, lelaki boleh seenaknya memperlakukan istri, boleh seenaknya melepas tanggungjawab, tidak masalah meski istri harus memikul beban menghidupi anak seorang diri. Begitu tidak berdayanya dia, betapa tidak punya kuasanya dia atas segala keputusan untuk dirinya sendiri.

“Ibu, Heti itu sudah kami anggap anak sendiri di sini, kami tidak menganggap Heti itu seorang pembantu. Kalau memang alasannya mau disekolahkan, kamipun berniat demikian kalau memang dia betah tinggal bersama kami. Bahkan kami berangan-angan, Heti meninggalkan rumah kami bukan karena bekerja sebagai pembantu di rumah orang lain, atau karena menikah dini, tapi dia meninggalkan rumah kami karena mendapat penghidupan yang lebih layak, tentu dengan bekal yang akan kami persiapkan untuknya. Tapi semua keputusan ada di tangan ibu, siapalah kami ini. Kalau laki-laki itu memang dia mau bertanggungjawab dan menyekolahkan anaknya, itu memang bagus dan mungkin keluar dari niat tulusnya, tapi janganlah ibu relakan Heti tinggal bersama bapaknya. Kalau mau menyekolahkan, dia tinggal memberikan biayanya kepada ibu dan ibu bisa sekolahkan Heti.” Itu nasehat terakhir yang bisa aku ucapkan kepadanya.

“Saya jemput Heti, untuk dipertemukan dengan bapaknya, dan akan saya lihat responnya seperti apa, kalau memang Heti tidak mau, dia pasti akan kembali ke rumah bapak dan ibu” Itu juga alasan terakhirnya kepada kami.

Dan merekapun berlalu meninggalkan kami, kawan. Entah dia kembali, entahpun tidak.

Cerita ini hanya salah satu dari ribuan cerita tentang perjuangan perempuan, tentang ketidakadilan, tentang kegigihan, tentang cinta, tentang impian dan harapan, tentang kenyataan hidup. Semoga menginspirasi.
Salam

Tidak ada komentar:

Posting Komentar