Minggu, 04 November 2012
Sepenggal Kisah dari Bone
Matanya berkaca-kaca ketika kutanya perasaannya saat mengetahui suaminya beristri lagi bahkan mempunyai anak dari pernikahan keduanya itu. “Kalau ditanya perasaan, sangat sedih mas, semua perempuan pasti merasakan hal yang sama jika diperlakukan seperti itu”. Ujarnya lirih, perlahan air matanya meleleh membasahi kedua pipinya. Kedua tangannya ditangkupkan menutupi wajahnya, tak sanggup ia menahan isak. Sejenak akupun terdiam, memberikannya kesempatan untuk mengeluarkan segala emosi dan gejolak jiwanya.
Adalah Husnawati nama perempuan itu , panggil saja Husna. Husna tinggal di suatu desa yang konon adalah kampung halaman dari mantan wakil presiden republik ini. Husna tinggal di sebuah rumah panggung dari kayu khas pesisir dengan tiang-tiang penyangga di bawahnya. Meski usianya baru 34 tahun namun ia telah memiliki 4 orang anak dari hasil perkawinannya, 2 orang anak perempuan dan 2 laki-laki. Anak perempuannya yang tertua saat ini sudah duduk di bangku kelas 3 Madrasah Tsanawiyah di desanya. Husna berparas cantik, berperawakan sedang dan berkulit kuning langsat, namun di balik wajahnya yang cantik tersirat duka dan penderitaan yang cukup dalam. Ah, jangan kau berprasangka buruk dulu kawan, aku tidak mengada-ada. Nanti akan aku ceritakan mengapa aku bisa bilang seperti itu.
Dalam membesarkan dan merawat ke empat anaknya, Husna harus bekerja keras seorang diri. Ah, mengapa dia yang harus menanggung beban seorang diri? “Sejak 7 tahun lalu, suami saya pergi merantau ke Kalimantan, namun ia tak pernah pulang. Jangankan memberikan nafkah lahir untuk istri dan anak-anaknya, berkabarpun ia tak pernah. Yang lebih menyakitkan hati, baru tiga tahun belakangan ini saya tahu bahwa dia sudah menikah lagi dan mempunyai anak. Itupun orang lain yang memberitahukannya kepada saya”. Lagi-lagi Husna tak mampu membendung air matanya, matanya menerawang entah ke mana, sorot mata yang rapuh. Aku turut hanyut menyelami perasaannya. Ada torehan luka di hatinya, yang entah kapan bisa sembuh sedia kala. Akupun sedikit terheran, mengapa perempuan secantik Husna harus ditelantarkan dan ditinggalkan begitu saja. Ah, kalimat seperti itu tak layak sebetulnya aku tulis kawan, memangnya kalau Husna itu tidak cantik lantas layak untuk ditelantarkan? Tentu bukan begitu maksudku kawan, aku hanya ingin menjelaskan bahwa dalam membina sebuah hubungan, tidak ada yang bisa mejamin kalau wajah cantik dan tampan itu bisa saling setia, wajah cantik bagi seorang perempuan tidak menjadi jaminan akan diperlakukan baik-baik oleh suaminya, bukan jaminan dia tidak akan ditinggal dan ditelantarkan.
“Tidak pernah, sekalipun tidak pernah dia memberi uang untuk anak-anak. Saya yang berusaha sendiri membesarkan dan menyekolahkan mereka”, ujarnya menjawab rasa penasaranku. Untuk memenuhi kebutuhan hidup diri dan keempat anaknya, Husna bekerja dengan menjadi buruh mengikat bibit agar-agar (rumput laut) serta membuat ‘songkoto’ setengah jadi. Sedikit aku jelaskan kawan, selain hasil laut seperti ikan dan sebangsanya, masyarakat di wilayah tersebut juga banyak yang menggantungkan hidup dari budidaya rumput laut. Bibit rumput laut diikat dan digantungkan dalam seutas tali plastik yang panjangnya mencapai 20 meter. Setelah bibit rumput laut diikat dan digantungkan dalam tali plastik tersebut, selanjutnya ditanam di laut dekat pantai. Setelah kurang lebih 40 hari, barulah rumput laut tersebut bisa dipanen. Namun tidak semua orang bisa bertanam rumput laut, bagi Husna dan teman-temannya hanyalah buruh mengikat rumput laut, bukan petani rumput laut. Dan satu lagi produksi hasil kerajinan tangan masyarakat setempat adalah Songkoto. Songkoto adalah peci khas Bone yang terbuat dari serat daun lontar. Pekerjaan membuat satu buah songkoto setengah jadi bisa diselsaikan dalam satu hari, namun itupun kalau tidak mengerjakan pekerjaan yang lain. Satu buah songkoto setengah jadi dihargai 20 ribu rupiah oleh pengumpul.
“Jika saya pergi mengikat agar-agar, dalam sehari bisa menyelesaikan paling banyak 4 tali, itupun kalau banyak bibit yang harus diikat. Satu tali panjangnya 20 meter dan saya mendapat upah 3.000 rupiah per tali. Artiya jika seharian dia bekerja, maka upah yang didapat hanya sebesar 12 ribu rupiah. Namun pekerjaan ini pun tidak rutin, sangat bergantung kepada pengusaha rumput laut dan ketersediaan serta cuaca tentunya. “Kalau tidak pergi ikat agar-agar, saya membuat songkoto Bone di rumah”. Beruntung Husna masih memiliki kedua orang tuanya yang tinggal serumah dengannya. Ia masih bisa ikut membantu ayahnya mengurus sawah garapan, meski tanah itu milik orang lain.
Tujuh tahun lalu, kalau aku hitung-hitung kepergian terakhir suaminya adalah saat Husna mengandung anak keempatnya. Artinya anak terakhir ini tidak pernah mengenal wajah bapaknya. “Terakhir kali dia pulang 3 tahun yang lalu, tapi dia pulang ke rumah orang tuanya, bukan ke sini. Dia menyuruh anak saya yang paling kecil datang ke rumahnya”. Setelah mengetahui bahwa suaminya telah beristri lagi, kerja Husna hanya menangis dan menangis. Dia merasa hidupnya sudah berakhir, kesetiaannya sebagai seorang istri yang menanti kepulangan suaminya, sia-sia belaka. Namun sebagai seorang istri yang ‘baik’, dia mengaku masih tetap mengharapkan kehadiran suaminya, berkumpul kembali dengan anak-anaknya.
“Tapi itu dulu, sekarang saya sudah tidak memikirkannya lagi, yang penting saya bisa hidup sendiri, saya bisa membesarkan dan menyekolahkan anak-anak sendiri, dan saya tidak boleh menggantungkan hidup kepada siapapun”. Mendadak, wajah dan sorot matanya yang tadi kulihat rapuh berubah, ada kilatan amarah, ada gumpalan ketegaran yang kini turut kurasa. “Kenapa sekarang kak Husna bisa berubah?”, tanyaku penasaran. “Sejak saya bergabung dengan ibu-ibu lain di kelompok PEKKA, saya jadi mempunyai tempat untuk berbagi, tempat bercerita. Dari situ saya timbul kesadaran, bahwa selama ini telah terjadi ketidakadilan dalam rumah tangga saya, saya baru sadar bahwa suami saya telah melakukan kekerasan terhadap saya. Saya baru mengerti bahwa tidak demikian seharusnya perlakukan seorang suami terhadap istri, seorang laki-laki terhadap perempuan. Sekarang saya ingin segera mengurus surat perceraian saya, karena sampai saat ini saya masih dalam status menggantung”.
Mendengar ceritanya, aku malu kawan. Sebagai seorang laki-laki, aku malu. Dari sekian banyak cerita yang kudengar dan kusaksikan sendiri oleh inderaku, pelaku kekerasan itu hampir semuanya adalah kaumku, laki-laki. Dan perlakuan seperti itu sudah dianggap wajar, kawan. Bahwa memang seharusnya demikian. "Seandainya aku suruh seseorang untuk sujud kepada orang lain, maka aku suruh seorang istri sujud kepada suaminya." Itulah kata-kata yang sering keluar dari para mubaligh dalam ceramah-ceramahnya menyangkut hubungan antara suami-istri. Dan itu dijadikan pegangan bagi kebanyakan orang, kawan.
Kembali ke Husna. Husna sekarang bukan lagi Husna yang dulu, yang hanya bisa meratapi kepergian suaminya, yang hanya bisa pasrah terhadap keadaan, yang masih setia menunggu suami ‘pulang”. Kini Husna telah bangkit, Husna yang punya semangat, Husna yang tegar berdiri diatas kakinya sendiri, dan yang paling kukagumi dia bertekad mengajak perempuan lain yang memiliki nasib serupa agar mempunyai kesadaran yang sama dengan dirinya.
Ah.. dahsyat sekali pemberdayaan. Semoga menginspirasi.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar